Google menggugat penipu asal China karena gunakan AI Gemini untuk penipuan

Google menggugat penipu asal China karena gunakan AI Gemini untuk penipuan
June 8, 2019 Mountain View / CA / USA - Google office building in the Company's campus in Silicon Valley; The "double o's" of the logo are decorated in rainbow colors in honor of LGBTQ Rights

Google telah mengajukan gugatan terhadap sebuah jaringan penipu yang berasal dari China karena mereka telah memakai teknologi kecerdasan buatan (AI) Gemini yang dimiliki Google untuk menjalankan skema penipuan dalam skala besar.

Menurut laporan dari Engadget pada Jumat (12/6), perusahaan teknologi raksasa ini berkolaborasi dengan Biro Investigasi Federal AS (FBI) dan penyedia layanan telekomunikasi AT&T, T-Mobile, serta Verizon dalam mengungkap jaringan penipuan tersebut.

“Ini merupakan upaya terkoordinasi dan gugatan pertama yang kami lakukan, dan hal ini mencerminkan seberapa besar pengaruh penipuan ini,” ungkap Penasihat Umum Google DeLaine Prado dalam wawancara dengan The New York Times.

Dalam gugatannya, Google menuduh sebuah kelompok bernama Outsider Enterprise telah memanfaatkan teknologi dan mereknya untuk menjalankan penipuan.

Google meminta agar pengadilan mengeluarkan perintah untuk menghentikan semua aktivitas jaringan tersebut.

Kelompok Outsider Enterprise diduga telah menggunakan Gemini untuk membuat situs web palsu yang menyerupai layanan Google, YouTube, serta institusi pemerintah AS seperti Layanan Pos AS (USPS) dan layanan tol E-ZPass di New York.

Namun, Google yang menjadi pengendali Gemini tidak memberikan rincian tentang langkah-langkah internal yang telah diambil untuk menangani penyalahgunaan Gemini.

Perusahaan melaporkan bahwa tindakan penipuan yang dilakukan oleh Outsider Enterprise mempengaruhi ratusan ribu orang dan diperkirakan menyebabkan kerugian hingga jutaan dolar AS.

Dari keterangannya, Google menyebut kelompok ini telah menciptakan sekitar 9. 000 situs web serta satu juta alamat URL palsu, dan mengirimkan 55. 000 pesan singkat spam yang dilaporkan oleh pengguna Android, selain 2,5 juta pesan berisi tautan ke situs penipuan hanya dalam waktu dua minggu.

Google menegaskan bahwa semua aktivitas tersebut berasal dari satu jaringan kejahatan siber terorganisasi.

Google juga mendorong perubahan dalam undang-undang untuk mengatasi serangan yang berbasis AI.

Perusahaan mendukung setidaknya tujuh rancangan undang-undang bipartisan di AS yang ditujukan untuk mencegah penyalahgunaan AI dalam melakukan penipuan.

Di antara rancangan tersebut termasuk National Strategy for Combatting Scams Act, Strategic Task Force on Scam Prevention Act, STOP Scams Against Seniors Act, dan AI Plan Act.

Anggota Kongres AS Brian Fitzpatrick menyatakan bahwa kejahatan yang dilakukan menggunakan alat AI bukan sekadar spam.

“Ini bukan spam. Ini adalah kejahatan terorganisasi lintas negara yang memanfaatkan ponsel kita dan memerlukan respons yang sama terkoordinasi dan agresifnya dengan ancaman yang ada,” ujarnya.

Asisten Direktur FBI Brett Leatherman menjelaskan bahwa para pelaku kejahatan kini semakin sering memanfaatkan AI untuk memperdaya korban dan membuat penipuan tampak lebih meyakinkan serta sulit terdeteksi.

“Kami memerlukan solusi jangka panjang untuk membawa mereka ke muka hukum,” imbuhnya.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *