Suhu di berbagai daerah di Indonesia sangat meningkat dengan kecenderungan panas yang semakin terasa pada siang hari. Hal ini berdampak pada pengguna mobil, yaitu membuat suhu di dalam kabin dapat lebih cepat naik daripada biasanya, terutama saat mobil diparkir di tempat terbuka. Sangat penting untuk dipahami bahwa panas yang berlebihan dari suhu luar akan meningkatkan beban kerja pada sistem pendingin kabin atau AC.
Hariadi, Asisten Kepala Departemen Layanan Purna Jual PT Suzuki Indomobil Sales (SIS), menyatakan bahwa agar sistem pendingin dapat bekerja dengan optimal, perlu adanya sirkulasi udara yang bersih. Filter AC memiliki peran penting dalam menyaring debu dari luar sebelum udara ini masuk ke evaporator AC.
Oleh karena itu, pemeriksaan awal pada komponen ini (filter AC) sangat penting. Tindakan ini tidak hanya menjaga kinerja pendinginan secara teknis, tetapi juga memastikan sirkulasi udara tetap sehat bagi penumpang, ucapnya pada Selasa (28/4/2026). Pengemudi disarankan untuk tidak meremehkan masalah terkait filter AC. Terlebih, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan musim kemarau 2026 akan datang lebih awal, dengan beberapa wilayah sudah mulai mengalami dampaknya sejak bulan April dan puncaknya pada Agustus 2026.
Filter AC berfungsi sebagai penyaring untuk mempertahankan kebersihan udara sebelum masuk ke sistem pendinginan. Prosesnya dimulai ketika blower menarik udara panas dari kabin atau luar, kemudian mengalirkannya melalui filter AC sebelum mencapai kisi-kisi evaporator. Penyaringan kotoran pada tahap awal dapat mengurangi kemungkinan penumpukan debu pada unit pendingin di dasbor. Untuk mendukung fungsinya yang penting, filter AC dirancang untuk menangkap berbagai partikel sesuai dengan jenis materialnya, seperti:
Material kertas atau serat non-woven: Jenis standar yang efektif dalam menyaring partikel debu besar, serbuk sari, dan kotoran dari jalan. Karbon aktif: Material premium yang dapat menyaring partikel fisik sekaligus menyerap bau tidak sedap dan gas pencemar dari lingkungan. Material elektrostatik: Memanfaatkan muatan listrik statis untuk menarik partikel yang lebih halus agar tidak masuk ke dalam sistem sirkulasi.
Hariadi menjelaskan bahwa sebagian besar mobil, termasuk produk Suzuki, menggunakan filter AC berbahan kertas atau serat non-woven karena memiliki kelebihan berupa berat yang ringan, daya saring yang rapat, ketahanan yang baik, dan biaya pemeliharaan yang lebih efisien.
Dengan meningkatnya polusi udara dan tingginya volume debu saat musim kemarau, pemilik mobil perlu melakukan pemeriksaan pada filter AC mereka. Pemeriksaan sebaiknya dilakukan setiap 5. 000 km hingga 10. 000 km, atau lebih cepat jika kendaraan sering beroperasi di lokasi proyek dan jalanan berdebu. Gejala bahwa filter mulai tersumbat biasanya terlihat dari hembusan angin AC yang menjadi lemah meski kipas dalam posisi maksimal, munculnya bau debu saat AC dinyalakan, dan jendela mobil yang cepat berkabut saat hujan akibat sirkulasi udara yang tidak lancar.
Hariadi menerangkan bahwa jika pemilik kendaraan mengabaikan kondisi filter AC yang kotor, hal itu dapat menyebabkan efek beruntun yang merugikan, seperti:
Kerusakan pada evaporator: Partikel debu yang masuk akan menempel pada evaporator yang basah dan berubah menjadi kotoran. Situasi ini dapat menyebabkan korosi hingga terjadi kebocoran, di mana biaya untuk memperbaikinya jauh lebih mahal dibandingkan dengan mengganti filter. Peningkatan beban pada kompresor: Karena sirkulasi udara terhalang, suhu dingin menjadi sulit dicapai sehingga kompresor harus beroperasi terus-menerus, yang mengakibatkan pemborosan bahan bakar. Ancaman kesehatan bagi penumpang: Filter AC yang kotor menjadi tempat berkembang biaknya bakteri dan jamur yang bisa memicu alergi, bersin, hingga masalah pernapasan.

