PLTN Pertama, BRIN Menyusun Ekosistem Nuklir di AS

PLTN Pertama, BRIN Menyusun Ekosistem Nuklir di AS

BRIN terlibat dalam proses penilaian ekosistem energi nuklir yang dilaksanakan di Amerika Serikat pada 20-24 April yang lalu. BADAN Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengamati ekosistem energi nuklir di AS sebagai dasar untuk mengembangkan teknologi Small Modular Reactor (SMR) dengan cara yang aman dan berkelanjutan di Indonesia. Amerika Serikat dianggap sebagai tempat yang kaya akan referensi teknologi reaktor nuklir, termasuk produk dari perusahaan-perusahaan seperti NuScale, BWX Technologies, Kairos Power, dan X-Energy.

Kepala Organisasi Riset Tenaga Nuklir BRINSyaiful Bakhri, menyatakan bahwa kemajuan dalam pengembangan Reaktor Moduler Kecil oleh berbagai perusahaan asal AS dapat dijadikan acuan dalam merumuskan teknologi reaktor nuklir yang paling sesuai bagi Indonesia. “Ke depannya, kolaborasi dibutuhkan dalam penyusunan regulasi untuk beragam model reaktor,” ungkap Syaiful dalam pernyataannya tertulis pada hari Sabtu, 2 Mei 2026.

Syaiful mengungkapkan bahwa BRIN turut berpartisipasi dalam kegiatan penilaian ekosistem energi nuklir yang berlangsung di Amerika Serikat pada periode 20-24 April yang lalu. Program ini dikategorikan sebagai pendekatan strategis untuk memperkuat komunikasi dalam mencari langkah konkret mengenai kerja sama internasional dalam pengembangan nuklir di Indonesia.

Dalam acara tersebut, BRIN menegaskan posisinya sebagai lembaga yang bertanggung jawab dalam aspek teknis dan ilmiah pengembangan energi nuklir nasional di Indonesiayang telah menyatakan keinginan untuk membangun PLTN pertamanya. Peran BRIN mencakup pemilihan teknologi, penentuan lokasi, hingga penguatan kapasitas sumber daya manusia. “Dengan demikian, Indonesia akan memiliki kerangka regulasi yang kokoh dan siap saat teknologi diimplementasikan,” jelas Syaiful.

Ia juga menambahkan bahwa penelitian dan pengembangan bersama menjadi salah satu prioritas yang pentingIni termasuk pengembangan studi kelayakan kolaboratif antara Indonesia dan mitra internasional untuk menentukan teknologi yang paling tepat.

Syaiful menegaskan pentingnya adanya skema pembiayaan yang sesuai agar pembangunan PLTN lebih efisien dan biaya listrik yang dihasilkan tetap kompetitif. “Simulator PLTN akan menjadi alat yang sangat berguna untuk pelatihan, peningkatan keterampilan, serta pendidikan publik, sambil mendukung kesiapan operator dan tenaga teknis di masa depan,” tuturnya.

Seperti yang telah dilaporkan oleh Tempo dalam artikel bertajuk ‘Gairah Baru Investasi Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir’ pada 18 Mei 2025, tawaran untuk membangun PLTN pertama di Indonesia datang dari berbagai negara. Di antara mereka adalah Rusia melalui Badan Usaha Energi Nuklir Rosatomyang telah mengajukan proposal kepada Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral tahun lalu. Negara lain yang juga menawarkan adalah Inggris, Prancis, Jepang, Cina, dan Korea.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *