Diperkirakan pada tahun 2026, sektor otomotif di dalam negeri akan mengalami tantangan, seiring dengan peningkatan harga bahan bakar minyak (BBM) yang tidak disubsidi dan perubahan dalam kebijakan pajak untuk kendaraan listrik (electric vehicle/EV). Yannes Martinus Pasaribu, seorang pakar otomotif dari Institut Teknologi Bandung, menilai bahwa situasi ini terjadi di tengah melemahnya beberapa indikator ekonomi. “Secara keseluruhan, tahun 2026 adalah saat di mana harga BBM non-subsidi meningkat, pemerintah pusat mengurangi dukungan insentif pajak untuk EV, kelas menengah mengalami tekanan, pertumbuhan PDB melambat, serta Indeks Kepercayaan Konsumen sedikit menurun,” jelas Yannes kepada Kompas. com, pada hari Minggu (19/4/2026). “Ini berpotensi menyebabkan proyeksi sektor otomotif mengalami guncangan struktural yang cukup besar,” tambahnya.
Salah satu faktor utama yang menjadi tekanan adalah penyesuaian harga BBM non-subsidi oleh PT Pertamina (Persero). Pertamax Turbo (RON 98) sekarang dijual Rp 19. 400 per liter di DKI Jakarta dan sekitarnya, meningkat dari sebelumnya Rp 13. 100 per liter. Baca juga: BBM Nonsubsidi Naik, Apakah Harga Pangan Akan Terdampak? Ini Penjelasan Ekonom. Dexlite kini harganya menjadi Rp 23. 600 per liter dari Rp 14. 200, sedangkan Pertamina Dex mencapai Rp 23. 900 per liter dari Rp 14. 500. Kenaikan harga tersebut meningkatkan biaya operasional untuk kendaraan bermesin pembakaran internal dan mengurangi daya beli masyarakat, terutama bagi kelas menengah. Di saat yang sama, pemerintah telah mengubah cara perpajakan untuk kendaraan listrik melalui Permendagri Nomor 11 Tahun 2026. Kendaraan listrik kini tidak lagi otomatis bebas Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB), tetapi tergantung pada kebijakan daerah masing-masing.
Daya Tarik EV Melemah
Perubahan ini berimbas pada perhitungan total biaya kepemilikan untuk kendaraan listrik, khususnya bagi konsumen perorangan. “Tekanan yang dialami oleh kelas menengah diperkirakan akan cukup berpengaruh terhadap daya beli mobil penumpang entry level, mengingat sekitar 80 persen transaksi mobil di Indonesia bergantung kepada leasing,” kata Yannes. “Tingginya suku bunga dan melambatnya ekonomi tentu akan memengaruhi kapasitas cicilan konsumen,” lanjutnya.
“Upaya untuk meningkatkan penjualan EV, yang seharusnya diuntungkan oleh lonjakan harga BBM karena operasionalnya lebih murah dibandingkan dengan mobil bensin sekelasnya, berpotensi menghadapi rintangan akibat hilangnya insentif pajak yang mempengaruhi perhitungan total biaya kepemilikan bagi konsumen perorangan di saat pendapatan mereka melambat,” katanya. Dalam kondisi ini, ia melihat arah pertumbuhan industri mulai mengalami perubahan. Baca juga: Harga BBM Naik, Penjualan Mobil Listrik Bekas Mungkin Meningkat. “Mesin pertumbuhan industri otomotif tahun ini kemungkinan akan beralih dari sektor konsumsi (retail) ke sektor produktif (B2B dan komersial),” ungkap Yannes. Permintaan diperkirakan didorong lebih banyak oleh sektor logistik, penggunaan kendaraan listrik oleh perusahaan untuk penghematan biaya operasional, serta kebutuhan kendaraan niaga kecil. “Penjualan tidak lagi sepenuhnya didorong oleh keinginan gaya hidup kelas menengah, melainkan juga karena kebutuhan operasional dari ekosistem logistik, pergeseran perusahaan ke armada EV untuk mengurangi OPEX, dan meningkatnya permintaan untuk kendaraan niaga kecil guna mendukung rantai pasok proyek pemerintah seperti MBG,” tambahnya.
Dia berharap harga rata-rata minyak Brent di kisaran USD 100–120 tidak mengalami volatilitas berkepanjangan, serta nilai USD tidak terlalu lama di atas Rp 17. 000. Jika hal ini terus berlanjut, tekanan pada daya beli kelas menengah bisa semakin parah,” kata Yannes. Sementara itu, Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menargetkan penjualan mobil di dalam negeri pada tahun 2026 mencapai 850. 000 unit, meningkat sekitar 5 persen dibandingkan dengan realisasi tahun sebelumnya.

