BYD mengakui bahwa kekurangan baterai mengganggu produksi kendaraan listrik

BYD mengakui bahwa kekurangan baterai mengganggu produksi kendaraan listrik

BYD dilaporkan menghadapi masalah serius terkait kekurangan baterai akibat tingginya permintaan untuk mobil listrik dengan teknologi pengisian cepat, yaitu flash charging, yang melebihi kemampuan produksi mereka.

Menurut informasi dari Carnewschina pada Sabtu, Chairman dan Presiden BYD, Wang Chuanfu, menyatakan bahwa kapasitas produksi baterai perusahaan saat ini sangat terbatas karena banyak model baru yang sudah memasuki fase peningkatan produksinya.

Wang memperkirakan bahwa pasokan baterai akan membaik dalam beberapa bulan ke depan seiring dengan peningkatan kapasitas produksi yang dilakukan.

Permintaan yang tinggi terutama berasal dari model-model terbaru BYD yang mengadopsi teknologi Blade Battery generasi kedua dan sistem pengisian ultra-cepat sebesar 1. 500 kW.

Beberapa model yang sudah mengintegrasikan teknologi ini adalah Denza B5 dan B8 Flash Charge Edition, serta BYD Atto 3 terbaru yang dilengkapi dengan motor listrik belakang berkapasitas 240 kW.

Sebelumnya, BYD mengklaim bahwa teknologi pengisian cepat generasi terbaru dapat mengisi daya baterai dari 10 persen menjadi 70 persen dalam waktu hanya lima menit.

Perusahaan itu juga menyatakan bahwa pengisian daya dari 10 persen hingga 97 persen dapat dicapai dalam sembilan menit dalam kondisi optimal.

Pada April 2026, pengiriman baterai BYD tercatat mencapai 20,98 GWh, sementara total pengiriman dari awal tahun telah mencapai 81,2 GWh.

Dalam hal infrastruktur, BYD terus memperluas jaringan pengisian flash di China dan mengklaim telah berhasil mendirikan 5. 979 stasiun pengisian ultra-cepat di 312 kota hingga pertengahan Mei 2026.

Perusahaan ini menargetkan agar total 20 ribu stasiun pengisian ultra-cepat dapat beroperasi di seluruh China pada akhir tahun 2026.

Selain fokus pada pasar domestik, BYD juga merencanakan untuk memperluas jaringan pengisian cepat ke pasar internasional termasuk Eropa dan Asia Tenggara sebagai bagian dari strategi global mereka.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *