Masuknya berbagai merek mobil asal China ke Indonesia belakangan kerap dikaitkan dengan stagnasi pasar otomotif nasional. Bahkan, muncul anggapan bahwa kehadiran brand baru ini hanya memakan pasar pemain lama, terutama merek Jepang. Menanggapi hal ini, Vice Chairman Market Development Gaikindo, I Jongkie D Sugiarto, menilai anggapan tersebut tidak sepenuhnya tepat. Menurut dia, kehadiran merek China justru memberikan dampak positif bagi konsumen karena pilihan kendaraan menjadi lebih banyak, terutama di segmen mobil listrik.
“Aspeknya bukan hanya tadi karena masuknya merk China. Ini kalau buat saya malah bagus, sekarang konsumen pilihannya makin banyak. Sekarang beli mobil listrik Rp 300 juta, Rp 200 juta sudah dapat. 5 tahun yang lalu yang ada cuma Ioniq Rp 800 juta, tidak kebeli,” ujar Jongkie, di Wuhu, China, Minggu (26/4/2026), Ia menjelaskan, penurunan harga mobil listrik dalam beberapa tahun terakhir menjadi bukti bahwa kompetisi yang semakin ketat justru menguntungkan pasar dari sisi konsumen.
“Secara keseluruhan (penjualan) belum bisa naik karena daya beli masyarakat kita masih rendah. Pertumbuhan ekonomi, suku bunga, kurs dolar, ini semua (faktornya),” ucapnya. Faktor seperti pertumbuhan ekonomi, nilai tukar rupiah, suku bunga, hingga inflasi menjadi penentu utama pergerakan pasar otomotif nasional. “Faktor yang tadi saya sebutkan, itu yang perlu diperbaiki juga, perlu disesuaikan lah,” kata Jongkie.
Dengan kondisi tersebut, Jongkie menilai kehadiran merek China bukan sekadar mengambil pasar lama, melainkan juga mendorong kompetisi yang membuat harga semakin kompetitif dan pilihan semakin luas.
Ia berharap, jika kondisi ekonomi membaik, pasar otomotif Indonesia bisa kembali tumbuh dan menembus angka penjualan yang lebih tinggi. “Supaya ini dari 850.000 unit (penjualan) kita bisa ke 1 juta lagi tahun depan,” ujar dia.

