Intel Memanfaatkan Chip “Rongsokan”

Intel Memanfaatkan Chip “Rongsokan”

Intel menemukan metode yang tidak biasa untuk meningkatkan pendapatannya di tengah lonjakan permintaan kecerdasan buatan (AI). Perusahaan semikonduktor yang berbasis di Amerika Serikat ini kini mengedarkan chip yang sebelumnya dianggap sebagai “rongsokan” atau tidak berguna, dan mengubahnya menjadi sumber pendapatan yang baru. Informasi ini disampaikan oleh analis Ben Bajarin dari perusahaan riset pasar Creative Strategies. Di akun X-nya (sebelumnya Twitter), ia menyatakan mendapatkan informasi tersebut dari divisi hubungannya dengan investor Intel. Menurut Ben, istilah chip “rongsokan” merujuk pada potongan chip (die) Intel yang sebelumnya dinilai cacat produksi dan tidak digunakan untuk produk akhir yang dijual kepada konsumen.

Potongan chip ini berasal dari proses pembuatan wafer, yaitu lembar silikon yang berfungsi sebagai “tempat” untuk banyak chip sekaligus. Dalam satu wafer, kualitas chip dapat bervariasi di berbagai bagiannya. Umumnya, chip yang terletak di tengah wafer memiliki kualitas paling baik dan digunakan untuk produk utama. Sementara itu, chip di pinggir wafer lebih mudah mengalami cacat kecil akibat proses pembuatan. Oleh karena itu, chip di bagian pinggir biasanya dianggap tidak layak untuk produk premium. Dalam beberapa kasus, chip tersebut diberi spesifikasi yang lebih rendah untuk produk kelas bawah, atau bahkan tidak digunakan sama sekali.

Memodifikasi Chip yang Tidak Layak Pakai

Kondisi mulai berubah ketika permintaan terhadap prosesor (CPU) meningkat akibat tren AI. Kebutuhan komputasi yang melonjak menjadikan hampir semua chip, termasuk yang sebelumnya tidak digunakan, kini memiliki nilai. Intel kemudian mencari cara baru dan mulai mengemas ulang chip-chip yang sebelumnya dianggap tidak berharga tersebut melalui proses penyortiran kualitas yang dikenal sebagai chip binning. Melalui proses ini, chip dengan kualitas lebih rendah masih bisa dirancang sebagai produk akhir, meskipun dengan spesifikasi yang diturunkan. Chip tersebut kemudian dijual untuk memenuhi permintaan komputasi AI.

Menariknya, pasar tetap menerima chip ini meskipun kinerjanya tidak setinggi varian premium. Hal ini menunjukkan bahwa pasokan CPU saat ini cukup ketat, karena konsumen bahkan bersedia menggunakan chip dengan kualitas yang lebih rendah untuk memenuhi kebutuhan komputasi AI. Situasi ini juga menjadi salah satu sumber pendapatan tambahan bagi Intel.

Sebagai produsen CPU, terutama untuk lini server seperti Intel Xeon, produk Intel memang banyak digunakan dalam pusat data dan perusahaan AI di seluruh dunia, dan intel tampaknya sudah mendapatkan banyak keuntungan dari bisnis ini. Chip “rongsokan” yang sekarang diolah ulang sepertinya menjadi tambahan margin dan potensi keuntungan baru yang sebelumnya tidak dipertimbangkan dalam estimasi pendapatan perusahaan, seperti yang dirangkum oleh KompasTekno dari Wccftech.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *